BENTENG paling luas DI DUNIA ada DI INDONESIA


Salah satu situs kekayaan budaya eks kesultanan Buton adalah Benteng Kraton Buton yang masih berdiri kokoh di pusat Kota Baubau. Dengan luas wilayah sebesar 22,8 hektar benteng ini tercatat sebagi bentenng terbesar di Indonesia bahkan Dunia. Hal ini diungkapkan Ocke Rubino direktur Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Menurut Ocke Rubino, selama ini MURI belum pernah mencatat benteng yang terluas. Namun pihaknya menilai setelah melihat beberapa benteng yang ada di Indonesia misalnya di Kraton Solo, benteng Port Of Roterdam di Makassar yang dianggap terbesar serta benteng lain yang ada di Indonesia tidak sebanding dengan luas benteng Kraton Wolio.”Dasar ini menjadi pertimbangan MURI mencatat Benteng Kraton Wolio Buton sebagai benteng terluas di Indonesia dan ini yang pertama masuk rekor MURI,”ungkapnya.

Dikatakan Ocke, pihaknya juga menilai benteng Kraton Wolio dengan luas 22,8 hektar ini ditengarai bukan hanya terluas di Indonesia tapi terluas di dunia. Pasalnya dalam catatan Guines of recor benteng terluas di dunia luas wilayahnya sebesar 18,4 hektar yang ada di Jerman.”Kita akan cek kembali, jika benteng ini lebih besar dibandingkan yang ada di Jerman maka akan kita nyatakan dan dicatat sebagai benteng terbesar di dunia,”ujar Ocke.Ia menambahkan, karena Kota Baubau sebagai Kota Budaya dan banyak peninggalan dari Kraton tentunya banyak hal yang menarik dan berpotensi menjadi suatu kebanggaan tersendiri buat daerah ini khususnya Kota Baubau.”Misalnya tiang bendera yang ada di samping Mesjid Agung Kraton menjadi hal menarik dan kita tengarai sebagai tiang bendera tertua yang sampai saat ini masih berdiri kokoh dengan indahnya selain itu terbuat dari salah satu batang pohon.

Ada satu hal menarik yang patut diketahui penduduk di Nusantara terhadap keberadaan benteng Keraton Buton. Yakni sebuah benteng yang tidak hanya berdiri dan diam membisu. Namun, di dalam kawasan benteng keraton terdapat aktivitas masyarakat yang tetap melakukan berbagai macam ritual layaknya yang terjadi pada masa kesultanan berabad abad lalu.

Di dalam kawasan benteng terdapat pemukiman penduduk yang merupakan pewaris keturunan dari para keluarga bangsawan Keraton Buton masa lalu. Di tempat ini juga terdapat situs peninggalan sejarah masa lalu yang masih tetap terpelihara dengan baik. Di tengah benteng terdapat sebuah mesjid tua dan tiang bendera yang usianya seumur mesjid. Yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Buton III La sangaji Sultan Kaimuddin atau dikenal dengan julukan ‘Sangia Makengkuna’ yang memegang tahta antara tahun 1591 – 1597.

Benteng ini memiliki panjang 2.740 meter yang mengelilingi perkampungan adat asli Buton dengan rumah-rumah tua yang tetap terpelihara hingga saat ini. Masyarakat yang bermukim di kawasan benteng ini juga masih menerapkan budaya asli yang dikemas dalam beragam tampilan seni budaya yang kerap ditampilkan pada upacara upacara adat.

Warisan lainnya adalah sekitar 100 jenis kain tenunan khas Buton yang tercipta dari tangan-tangan terampil masyarakat buton. Selain itu terdapat Keragaman bahasa yang dimiliki masyarakat di wilayah Buton hingga mencapai ratusan jenis bahasa dengan dialek tersendiri yang tersebar di 72 wilayah (kadie). Namun, tetap komit menjadikan Bahasa Wolio sebagai bahasa yang dapat mempersatukan keragam itu. Damai dan penuh persaudaraan mewarnai kehidupan masyarakat. Hingga negeri ini selalu damai dan tenteram tak pernah terjadi perselisihan yang membawa perpecahan.

Nuansa Islami ditunjukkan oleh bentuk pemerintahan kesultanan dengan bahasa resmi yakni bahasa Wolio yang tertulis dengan aksara Wolio yang menggunakan huruf Hijahiyah Arab. Sebuah warisan leluhur yang tak terbantahkan. Namun sayang, keberadaan benteng Keraton serta berbagai keragam dan kekayaan budayanya seolah terlupakan oleh pandangan sejarah Nasional. Keunikan yang dimilikinya nyaris tak pernah mendapat pengakuan di mata dunia.

Sebagai wadah yang menghimpun keajaiban dunia di Nusantara, MURI harus segera melakukan upaya demi meraih pengakuan dunia untuk sebuah benteng terluas beserta seabrek keunikannya yang kini berada di tengah-tengah wilayah eks kesultanan Buton yakni di Kota Bau-Bau Sulawesi Tenggara.

Letaknya yang strategis berada pada dataran tinggi menandakan bahwa para pendiri negeri ini dahulu kala memiliki peradaban. Konstruksi benteng yang sulit dipecahkan oleh kecanggihan teknologi juga patut menjadi bahan renungan bahwa kreativitas para leluhur Buton di masa lalu tak bisa dianggap remeh.

Telah banyak upaya yang dilakukan pemerintah daerah demi perjuangan untuk memperkenalkan keunikan budaya Buton dengan segala bentuk peninggalan sejarahnya. Diantaranya kegiatan Simposium Internasional pernaskahan Nusantara yang diselenggarakan pada Bulan Agustus 2005. Kegiatan ini diikuti oleh utusan dari para pakar budaya dari dalam dan luar negeri diantaranya Singapura, Malaysia, Jepang, China, Jerman, Belanda, Rusia dan beberapa negara lain di dunia.

2 Comments

  1. wahyu said,

    August 1, 2011 at 9:48 am

    wow….. hebat ya… warisan leluhur kita.

    benteng 22,8 hektar. masuk rekor dunia.

    Di Kabupaten Lumajang Propinsi Jawa Timur Juga Ada Benteng Terbesar dengan Luas 135 hektar. Panjang 10 km. lebar benteng 6 meter. tinggi benteng 10 meter. peninggalan Raja ARYA WIRARAJA tokoh pendiri Majapahit.

    • puio said,

      August 8, 2012 at 5:16 am

      wah kerennnnnnnnnnnn……………..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: