Air Lidah Buaya


Kalimantan Barat memang terkenal dengan hasil aloe vera atau lebih di kenal dengan lidah buaya. Bahkan Kalimantan Barat telah meng-ekspor hasil aloe vera-nya ke Jepang. Nah aloe vera sendiri bisa di olah dan di sini menjadi minuman khas orang Pontianak. Di Pontianak terkenal juga dengan jenis tanaman ini, byk dibudidayakan…dan memang daunnya-batangnya…(bingung namainnya) itu gede2 bangets, bisa segede kaki orang dewasa gendut…disana diolah dan dikemas dengan baik…sudh jadi home industry gt…salah satu olahannya ya es lidah buaya ini, trus ada dodol lidah buaya, manisan lidah buaya, sama cocktail (sejenis nata de coco)..seger lho..katanya sih baik untuk pencernakan…selain itu juga sebagai bhn kosmetik dan obat2n…

see the pic :

Pengkang


Pengkang adalah makanan khas juga Kalimantan Barat. Namun menemukan pengkang tidak begitu mudah meski tidak begitu sulit. Maksudnya, makanan ini masih jarang ada yang menjual, namun yang terkenal sudah ada disini. Tempat makan yang tak pernah sepi dari pengunjung.

Pengkang adalah sejenis makanan seperti ketan dimana di dalamnya ada isi. Seperti sambal udang begitu. ketan itu nantinya di bungkus lalu di bakar. cara makannya cukup di cocol ama sambal pengkang yang pedasnya bener-bener hot.


Pisang Goreng Pontianak


Bila Anda berkunjung ke Kota Pontianak, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat, jangan lupa menikmati salah satu menu andalan daerah yang dijuluki dengan Kota Khatulistiwa ini, yaitu pisang goreng Pontianak. Sebab, pisang goreng Pontianak telah menjadi ikon wisata kuliner kota yang berada di tepi Sungai Kapuas tersebut, di samping aneka makanan dan minuman yang berbahan dasar daun lidah buaya (aloe vera) tentunya. Pisang goreng asli Pontianak disayat tipis-tipis menjadi 4 hingga 7 potong, di mana bentuknya menyerupai sebuah kipas. Seiring dengan berjalannya waktu, pisang goreng Pontianak juga mengalami “modifikasi”. Salah satu dari modifikasi tersebut adalah dua buah pisang dijadikan satu dan lalu digoreng, sehingga terkesan lebih besar dari sebelumnya yang hanya terdiri dari satu buah pisang. Begitu juga dengan bentuknya, yang tidak mesti menyerupai sebuah kipas, tapi bisa juga seperti fried chicken, crispy nugget, atau ayam kremes.

Maka, bagi Anda yang berada di Kota Pontianak, jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati pisang goreng yang sudah terkenal ke berbagai kota di Indonesia dan luar negeri ini, seperti Malaysia dan Belanda.

Rumah Tradisional yang hampir Punah


rumah_simalungunPewarta-Indonesia, Bangunan Rumah Bolon pematang Purba ini bekas istana Raja, terdiri dari dua bagian. Bagian depaan disebut Lopou berukuran 12 m x 8,5 m. Dipakai tempat tinggal Raja dan tamu-tamunya. Bagian belakang dipakai untuk isterinya yang berjumlah 12 orang dan anak-anaknya. Rumah Bolon ini menghadap ke timur berdiri di atas umpak batu. Diatas umpak batu terdapat gelondongan kayu yang disusun secara horizontal. Jumlah gelondongan kayu 10 buah disebut halang/galang. Bagian dinding dihiasi motif sulepat (garis-garis siku saling berkaitan dikombinasi dengan hiasan bunga. Rumah ini tidak mempunyai jendela, tetapi dibuat berjeruji.

Terdapat pintu masuk dari depan dan belakang, akan tetapi tangga naiknya ada di bagian depan dengan tangga kayu dan terdapat pegangan yang terbuat dari rotan disebut Hotang Bulo.

Di tiang kiri dan kanan pintu masuk terdapat hiasan bohi-bohi (bentuk muka manusia yang menyeramkan). Di bagian dinding terdapat hiasan berupa cecak yang terbuat dari cat (dulu terbuat dari jalinan ijuk).

Atap rumah terbuat dari ijuk, di ujung bagian depan dan belakang terdapat bentuk menyerupai kepala kerbau. Kepalanya dari ijuk tapi tanduknya asli tanduk kerbau, menurut kepercayaan kepala kerbau ini sebagai lambang kebesaran, keberanian dan kebenaran serta penangkal roh jahat.

Di ruang dalam Rumah Bolon bagian depan disebut Lopou dipakai Raja dan tamunya. Di ruang ini terdapat dua buah gon, di kiri dan kanan pintu masuk terdapat para-para tempat menyimpan senjata.. Di kanan kiri pintu masuk terdapat tungku yang di atasnya terdapat Parasanding (tempat menyimpan bumbu dan alat dapur). Di sudut kiri belakang terdapat kamar tidur Raja. Di tengah ruang terdapat tiang tempat meletakkan tanduk kerbau sebagi tanda penabalan Raja yang jumlahnya 13 tanduk sesuai jumlah raja di pematang purba.

Bagian belakang Rumah Bolon berfungsi sebagi tempat tinggal Isteri raja dan ruang ini tidak mempunyai sekat. Masing-masing menempai sisi kiri dan kanan dan masing-masing mempunyai tungku dan didalam rumah ini masih banyak terdapat berbagai peninggalan sejah berupa benda-benda alat rumah tangga, peti mati, benda pusaka dan lain-lain.

Benda Budaya Pusaka Batak, Hampir Punah…


Peti MatiBenda-benda budaya pusaka merupakan salah satu daya tarik wisatawan untuk datang ke suatu daerah. Namun disayangkan benda budaya pusaka Batak banyak yang diperjualbelikan dengan harga yang relatif tinggi hingga mencapai jutaan rupiah. Sebagian besar warisan nenek moyang ini tidak terawat dan terkesan diabaikan.

Wisatawan pada umumnya dapat dianggap seperti antropolog dan sosiolog amatiran, mereka datang mengunjungi obyek wisata karena tertarik akan kombinasi faktor alam dan kebudayaan. Dalam hal ini wisatawan selain menikmati keindahan alam juga ingin menambah pengetahuannya dalam hal sosio kultural yang merupakan spesifikasi sesuatu daerah yang mungkin tidak dimiliki daerah yang lain seperti nilai-nilai budaya, adat istiadat, ritual agama, kesenian, artifak, arsitektur dan lain-lain yang bersifat local genius.

Dalam hal menarik minat wisatawan, Tanah Batak memiliki kekayaan benda budaya pusaka peninggalan sejarah nenek moyang. Beberapa jenis benda sejarah yang cukup dikenal pada zaman berburu dan meramu (zaman Pleistocen 1.500.000-19.000 — zaman Holecein 10.000-3.000 SM) adalah Sior, alat yang dipakai suku Batak Toba dalam memanah binatang. Sumpitan digunakan pada zaman berburu untuk menembak binatang.

Curu-curu sebagai tempat kemenyan suku Batak Pakpak, Dairi dalam mengumpulkan bahan makanan dengan cara meramu dalam mempertahankan hidup. Selain itu Tali Tolang sebagai tali untuk memanjat pohon enau.

Dalam memburu binatang besar biasanya masyarakat menggunakan lembing, perangkap, jerat dan bedil. Sementara untuk binatang kecil menggunakan panah, sumpitan, jaring dan pemulut (Pikat dan getah).

Kebiasaan meramu dan berburu hingga sekarang masih menjadi pekerjaan sambilan suku Batak Toba di pedesaan. Sehingga meski jarang ditemui, benda- benda sejarah ini masih ada yang disimpan oleh penduduk di pedesaan sampai sekarang.

Miliki Nilai Sejarah Yang Tinggi

Sebelum pengaruh asing masuk ke Sumatera Utara (Sumut) masyarakat masih menggunakan sistem barter dalam perdagangan. Saling tukar menukar antar hasil bumi dan barang-barang penduduk dengan suku pendatang. Alat pengukur setiap suku atau daerah hampir bersamaan yaitu takaran yang dibuat dari bambu atau kayu yang disebut Solup (Batak Toba) dan Tumba (Batak Karo) untuk mengukur padi, beras dan kacang.

Setelah bangsa asing masuk barulah dikenal timbangan dari logam yang bentuknya lebih sempurna. Meski timbangan dari logam sudah menguasai pasar, namun masyarakat di pedesaan masih suka menggunakan alat-alat pengukur tradisional ini. Misalnya, Tumba dan Solup untuk mengukur padi, beras dan kacang masih dipakai sampai sekarang.

Rupanya pada zaman prasejarah masyarakat Batak Toba sudah memiliki keahlian dalam membuat peralatan rumah tangga dari kayu, rotan dan bambu. Perabot rumah tangga ini terdiri dari kursi, meja dan lemari. Benda-benda kerajinan/anyaman terdiri dari bambu dan rotan. Dasar anyaman umumnya menggunakan pola silang antara fungsi vertikal dan horizontal. Ragam hiasaan umumnya diambil dari motip flora dan fauna. Salah satu karya kerajinan jenis ini masih ditemui pada Kampil (Tempat sirih) Batak Karo.

Benda-benda lain peninggalan nenek moyang Batak Toba adalah benda-benda menanak nasi, alat-alat dapur, peralatan masak dan dapur yang sudah jarang ditemui. Benda pusaka ini malah ada yang diperjualbelikan sampai jutaan rupiah karena bentuknya yang kecil dan unik. Biasanya yang menampung benda pusaka ini adalah para kolektor yang tersebar di penjuru tanah air.

Menurut salah seorang kolektor yang suka membeli benda pusaka budaya Batak Toba, benda-benda sejarah Batak memiliki nilai seni yang cukup tinggi. Selain unik, katanya, benda bersejarah ini sangat cocok dijadikan koleksi. “Itu sebabnya saya pernah membeli satu buah Hudon Tano (Periuk tanah) dan Harpe (Alas periuk) masing-masing senilai lima juta rupiah dari seorang warga di Samosir,” akunya pada Penulis namun enggan menyebut namanya.

Rumah Bolon Terancam Punah

Selain itu warisan nenek moyang suku Batak Toba yang memiliki nilai sejarah yang tinggi namun hampir punah adalah Rumah Bolon. Rumah adat ini berbentuk empat persegi panjang dan kadang-kadang dihuni oleh 5 sampai 6 keluarga batih. Untuk memasuki rumah harus menaiki tangga yang terletak di tengah-tengah rumah, dengan jumlah anak tangga yang ganjil. Bila orang hendak masuk rumah Batak Toba harus menundukkan kepala agar tidak terbentur pada balok yang melintang, hal ini diartikan tamu harus menghormati si pemilik rumah.

Lantai rumah kadang-kadang sampai 1,75 meter di atas tanah, dan bagian bawah dipergunakan untuk kandang babi, ayam, dan sebagainya. Dahulu, pintu masuk mempunyai 2 macam daun pintu, yaitu daun pintu yang horizontal dan vertikal, tapi sekarang daun pintu yang horizontal tak dipakai lagi.

Pada bagian depan rumah adat terdapat hiasan-hiasan dengan motif garis geografis dan spiral serta hiasan berupa susu wanita yang disebut adep-adep. Hiasan ini melambangkan sumber kesuburan kehidupan dan lambang kesatuan. Rumah yang paling banyak hiasan-hiasannya disebut Gorga. Hiasan lainnya bermotif pakis disebut nipahu, dan rotan berduri disebut mardusi yang terletak di dinding atas pintu masuk.

Pada sudut-sudut rumah terdapat hiasan Gajah dompak, bermotif muka binatang, mempunyai maksud sebagai penolak bala. Begitu pula hiasan bermotif binatang cicak, kepala singa yang dimaksudkan untuk menolak bahaya seperti guna-guna dari luar. Hiasan ini ada yang berupa ukiran kemudian diberi warna, ada pula yang berupa gambaran saja. Warna yang digunakan selalu hitam, putih dan merah.

Pengamatan Penulis disejumlah daerah di Tanah Batak tentang keberadaan warisan rumah adat nenek moyang suku Batak Toba menunjukkan bahwa sudah banyak yang tidak terawat dan terkesan diabaikan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) setempat. Sehingga keberadaan rumah Bolon sudah terancam punah.

“Mungkin sepuluh tahun ke depan, kita tidak akan melihat lagi rumah Bolon yang berdiri secara utuh di kampung Batak bila Pemerintah daerah (Pemda) tidak segera berperan untuk mengkonservasi warisan nenek moyang. Padahal rumah Bolon memiliki nilai sejarah yang tinggi untuk menjadi daya tarik wisatawan,”ujar seorang Tokoh Adat Batak Toba bermarga Simbolon.

Menurut Simbolon, salah satu upaya untuk mengkonservasi rumah Bolon adalah dengan merawat dan menjaga keadaan rumah Bolon tetap baik dengan melibatkan masyarakat setempat agar tujuan konservasi berhasil.

Menjaga kelestarian benda budaya Batak

Selain peran Pemerintah daerah dalam mengkonservasi benda budaya dan melibatkan peran masyarakat setempat agar tujuan konservasi berhasil, maka menurut salah seorang Antropologi Universitas Sumatera Utara (USU) di Medan, Dra Hernauli Sipayung, menyarankan agar benda budaya pusaka yang masih dimiliki masyarakat agar diserahkan ke Museum untuk dikonservasi.

Maksudnya agar pihak museum yang merawat benda-benda ini agar tidak punah. Terutama benda pusaka yang hampir punah dan memiliki nilai sejarah yang tinggi, sebaiknya segera diserahkan ke museum. “Sebab dalam mengkonservasi benda-benda bersejarah ini diperlukan ketelitian dan kepedulian yang tinggi,” ujar Hernauli yang merupakan Kepala Bidang Konservasi Museum Sumatera Utara ini.

« Older entries