Papeda, makanan khas Papua


Papeda

Apabila anda mengunjungi daerah tertentu, maka anda tentunya ingin menikmati makanan khas daerah tersebut. Makanan pokok orang Papua yang hidup di Wamena (suku Lembah Baliem dan suku Dani) adalah “Ifere” atau disebut juga “petatas”, yang berasal dari umbi-umbian.

Kali ini saya akan menceritakan makanan pokok orang Papua, yang terbuat dari sagu dan disebut Papeda. Apa dan bagaimana caranya membuat Papeda? Papeda berasal dari tepung yang diaduk-aduk sambil dituangi air mendidih, sampai terbentuk adonan yang menyatu, seperti “gulali” dan siap untuk dimakan.

Papeda dimakan bersama kuah ikan kuning Papeda yang telah siap untuk dimakan(ikan yang dimasak, dengan kuah yang berwarna kuning). Sebetulnya yang membuat sedap adalah kuah ikannya, karena Papeda sendiri sebagaimana halnya pengganti nasi, dimakan bersama lauknya. Cara mengambil Papeda dari mangkokCara mengambil Papeda menggunakan sumpit yang dipegang oleh kedua tangan, diputar dengan cepat sehingga menyerupai gulungan, terputus dari Papeda yang ada dimangkok, kemudian dituang dalam piring, serta diberi kuah ikan kuning. Bagi orang yang sudah terbiasa, cara memakannya sebagaimana orang memakan bubur ayam, bisa langsung diseruput. Namun bagi orang luar Papua, disarankan agar mengambil Papeda sedikit saja, langsung diberi kuah ikan kuning, didorong dan langsung ditelan tanpa dikunyah.Papeda dan kuah ikan kuning

“Mengapa?”, tanya saya pada teman yang dari Papua. “Karena ibu belum terbiasa, dan agar tak sakit perut, karena sagu yang digunakan untuk Papeda adalah sagu yang masih belum ada campurannya, baunya cukup menyengat, berwarna coklat,”kata teman saya dari Papua.

Saya menceritakan tip yang saya peroleh dari teman Papua tadi, pada teman yang berasal dari Denpasar. Tapi dia mengatakan…”Ah, ini kali kedua saya makan Papeda”, jawabnya. Betul, dia sangat menikmati Papeda, tangannya dengan terampil menggulung adonan Papeda dengan sumpit di kedua tangannya, dan langsung di tuang ke piringnya. Dia juga menertawakan saya karena kikuk, dan nggak bisa mengambil Papeda dengan sumpit. Selanjutnya dia makan dengan lahap, seolah-telah telah terbiasa makan Papeda berulang kali. Saya tanya…”Enak?”, dia mengangguk. Mulailah saya mencoba, Papeda yang ada dipiring saya gulung kecil, kemudian diberi sesendok kuah ikan, dan langsung digelontorkan kemulut tanpa dikunyah. Hmm.. sedaap…tapi bau sagunya memang agak menyengat.

Saya tak berani makan banyak, takut perutnya kaget, jadi saya mengambil piring lagi, dan makan nasi dengan lauknya. Apa yang terjadi? Besok paginya temenku mengeluh sakit perut, dan bolak balik kebelakang, mungkin perutnya kaget. Syukurlah tak terjadi apa-apa.

Bagi anda yang belum pernah menikmati Papeda, sebaiknya ikuti saran teman saya dari Papua. Mulailah dicoba makan sedikit demi sedikit, dicampur kuah ikan, langsung digelontorkan kemulut tanpa ditelan. Nanti jika telah terbiasa, dan perut tak kaget lagi, barulah makan menggunakan sumpit dan diseruput. Siapa yang mau Papeda??

About these ads

2 Comments

  1. June 19, 2012 at 7:45 am

    bagi dong

    • puio said,

      July 28, 2012 at 3:29 am

      bikin j sendiri mdh ko’…. n-n


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: